Kisah Batin Seorang Penyintas
William Li tidak pernah ingin disebut pahlawan. Ia hanya ingin semua orang selamat dari kebakaran yang menghancurkan Wang Fuk Court, tempat tinggalnya sejak lahir. Namun, tragedi itu merenggut nyawa banyak tetangga, dan meninggalkan luka batin mendalam. Setiap kali orang menyebutnya hero, hatinya remuk. Ia merasa bersalah karena ia tidak bisa menyelamatkan semua orang.
Kebakaran besar tersebut melanda kompleks tujuh gedung. Tragedi ini mengakibatkan 159 orang tewas. Puluhan warga masih belum ditemukan. Petugas pemadam terus menyisir puing gedung. Banyak keluarga menunggu kabar tentang orang yang mereka cintai.
Otoritas Hong Kong langsung memerintahkan investigasi independen. Mereka ingin memahami apa yang salah. Mengapa begitu banyak warga tidak bisa melarikan diri. Banyak pertanyaan belum terjawab hingga sekarang.
Saat Alarm Tidak Berbunyi
Beberapa temuan awal menunjukkan penyebab utama bencana semakin jelas. Sistem alarm kebakaran ternyata tidak bekerja. Selain itu, netting di sekitar bangunan tidak tahan api. Bahan itu mempercepat penyebaran asap dan api. Situasi semakin kacau.
Ketika istrinya menelepon dan berkata ada api, Li tenang saja. Ia percaya semuanya terkendali karena tidak ada bunyi alarm. Ia bahkan menyempatkan diri berkemas. Namun, ketika ia membuka pintu, asap pekat menyapu wajahnya. Ia segera menutup pintu kembali.
Ia melindungi diri menggunakan handuk basah di celah pintu. Ia mencoba tetap berpikir jernih. Namun, suara teriakan terdengar dari koridor. Ia nekat keluar. Dengan handuk basah menutup hidung, ia meraba dalam gelap. Ia menemukan sepasang tetangga yang lemas. Ia menarik mereka masuk ke apartemennya.
Meski begitu, ada suara lain. Pekerja domestik yang mencari wanita lansia. Suara itu tiba-tiba hilang. Li merasa bersalah, karena kali ini ia tidak mampu menolong lagi.
Para Penolong yang Gugur dan Bertahan
Tidak hanya Li yang berusaha menyelamatkan orang lain. Bai Shui Lin, seorang nenek yang berusia 66 tahun, berlari membangunkan tetangga. Ia mengetuk pintu satu per satu. Ia berhasil membantu tiga keluarga kabur. Namun, ia tidak kembali. Ia ditemukan meninggal. Anak-anaknya menyebutnya sosok penuh keberanian.
Beberapa pekerja asing juga menjadi korban. Sembilan pekerja Indonesia dan satu dari Filipina meninggal dunia. Namun, masih ada yang selamat, seperti Rhodora Alcaraz. Ia terjebak bersama bayi dan nenek yang ia rawat. Ia menolak pergi sebelum semuanya aman. Ia juga disebut pahlawan. Namun, Li selalu merasa julukan itu menyakitkan hatinya.
Pilihan Sulit Antara Hidup dan Mati
Waktu terus berlalu. Asap semakin pekat. Api semakin membesar. Pintu darurat satu terbakar. Pintu darurat lain diduga terkunci. Mereka tidak bisa melompat. Ledakan terdengar terus. Semua mulai putus asa.
Li berpamitan kepada teman-temannya. Ia menulis pesan:
“Jika aku tidak selamat, tolong jaga anak-anakku.”
Setelah dua setengah jam, akhirnya pemadam datang dengan tangga udara. Pasangan yang lebih tua diselamatkan lebih dulu. Li memaksa begitu. Ia ingin mereka aman. Saat tiba gilirannya, ia menoleh ke apartemen terakhir kalinya. Semua kenangan ada di sana. Namun api merenggut semuanya.
Mencari Keadilan dan Ketabahan
Di rumah sakit, aroma asap masih menghantui hidungnya. Ia menangis. Ia merasa takut pulang. Dunia yang ia kenal telah hilang. Rumah bukan lagi tempat aman baginya.
Namun, Li tidak ingin diam. Ia memilih bersuara. Ia ingin warga mendapat jawaban. Ia ingin keadilan bagi semua korban.
Rasa bersalah masih ada. Namun, ia berjuang menghadapinya. Ia percaya kebenaran harus ditemukan.
“Hati saya hancur setiap kali saya dipanggil pahlawan,” katanya lirih.
Tetapi, banyak orang melihatnya sebagai sosok berani yang berjuang menyelamatkan sesama dalam situasi gelap dan mengerikan.
Dan itulah kebenaran yang sebenarnya.